Berpikir Merdeka

Merdeka dalam berpikir, berpendapat dan bertindak!
Random Image

Slamet Widodo adalah seorang warga negara Republik Indonesia


Sate dan becek mentok sor sawo…

Becek dan sate mentok (Cairina moschata) merupakan sajian khas Tuban, selain aneka penganan hasil laut. Hari minggu lalu saya dan beberapa rekan berkesempatan untuk mencicipi masakan mentok di warung “Sor Sawo”. Sor sawo merupakan singkatan dari ngisor sawo alias dibawah pohon sawo. Ya, didepan warung ini terdapat sebuah pohon sawo yang lumayan besar, sehingga suasana teduh dan sejuk menambah kenyamanan bersantap di warung ini. Masyarakat Jawa sangat terbiasa untuk menyingkat beberapa kata yang dirasa panjang dan kurang praktis untuk diucapkan. Teko endi alias dari mana sering diucapkan menjadi kondi, gak ono (gak onok) menjadi genok.

Warung sor sawo terletak di Desa Karang, Kecamatan Semanding. Warung ini merupakan jujugan bagi para penggila mentok. Olahan mentok yang disajikan di warung sederhana ini berupa sate dan becek. Saya kesulitan untuk mencari padanan kata becek ini. Kalau dilihat dari kuahnya, saya bisa menebak kalau becek ini menggunakan santan namun tidak terlalu kental. Mirip-mirip gule lah…

Dari luar tidak yang menonjol dari bangunan warung ini. Sangat sederhana, tidak ubahnya warung atau rumah di daerah pedesaan Jawa. Warung ini masih berpegang teguh dengan model bangunan lama, dinding tidak ditembok dan juga lantai tetap tanah. Namun dibalik kesederhanaan bangunannya, warung ini menyimpan sebuah kemewahan rasa.

Sayang, kami terpaksa harus merelakan becek mentok-nya. Hebat, baru jam 11 saja, becek mentoknya sudah ludes. Akhirnya kuah becek saja yang dapat kami nikmati. Beruntung sate mentok masih tersedia. Hmmmm….

Untuk minuman, warung ini menyediakan aneka minuman halal dan haram. Jangan kaget, saya telah ulas pada tulisan yang ini dan yang itu. Minuman halal mulai dari yang tradisional sampai minuman kapitalis tersedia disini, pun demikian dengan minuman haramnya. Ahh.. sudahlah, saya tidak akan memperpanjang halal dan haram ini, inilah kearifan lokal.

Bagaimana dengan kami? Toak dalam wadah centhak menjadi teman menyantap sate mentok ini. Toak adalah minuman tradisional khas Tuban. Minuman ini berasal dari sadapan pohon siwalan alias bogor (Borassus flabellifer). Penyajiannya juga khas, dengan menggunakan batang bambu sebagai pengganti gelas. Rasanya pahit manis asem segar…

Sate mentok pun telah matang. Woww..ini sate beneran! Bukan sate lalat alias sate-satean ituh… Irisan dagingnya lumayan besar, sehingga dijamin anda bakal puas. Soal rasa, jangan ditanya! Jauh berbeda dengan ayam! Suer!…

Bumbu yang disajikan dengan sate mentok ini adalah bumbu kecap, bukan bumbu kacang. Kecap cap “Laron”, pusaka kuliner Tuban menjadikan rasanya semakin menggigit. Uenake cah…

Mau pakai nasi putih, lontong atau nasi jagung? Anda bebas memilihnya. Tapi jangan heran, nasi jagung menjadi teman favorit sate maupun becek mentok. Beruntung kami masih mendapatkan lima bungkus nasi jagung, stok penghabisan.

Nasi jagung, kuah becek, sate mentok berpadu dalam buaian semilir angin dibawah pohon sawo….

Tak lupa harumnya kretek berpadu dengan pahitnya toak Tuban.

Hmmmmmm….

Istiqomah…

Istiqomah atau konsistensi saat ini sedang menjadi sebuah kebutuhan wajib bagi para pejabat negeri ini. Istiqomah dalam menjalankan amanat rakyat haruslah menjadi kewajiban yang tak bisa dielakkan bagi para pemegang amanat ituh. Pemerintah SBY yang berjanji akan memberantas korupsi di awal masa pemerintahannya dulu, kini sedang diuji konsistensinya. Berbagai desakan dan ancaman untuk membubarkan KPK telah bergulir. Dari mana lagi, kalau bukan dari lembaga sarang koruptor.
Para pejabat yang kini banyak mendekam di bui ternyata mempunyai masa lalu yang manis. Mereka kebanyakan adalah seorang aktivis pergerakan di kala mudanya, di kala masih menjadi mahasiswa, mahasiswa S0 hingga S1, tepatnya. Mereka dulu berteriak-teriak akan ketidakadilan. Mereka dulu berbusa-busa berorasi menuntut kesejahteraan rakyat. Mereka dulu seorang raja singa podium. Mereka dulu sangat lihai membawa palu ketika memimpin sidang tahunan organisasi.
Tapi ketika istiqomah tidak lagi menjadi tambatan hati, ketika jabatan telah menanti. Hilang semua kepedulian mereka pada rakyat kecil. Sejarah membuktikan betapa busuknya (oknum) bekas aktivis mahasiswa itu. Yah, istiqomah telah hilang dari hati mereka…
Saya salut pada seorang Kawan yang sampai detik ini pantang untuk masuk sebuah mall di depan tugu kujang Bogor. Dia beralasan, dulu dialah yang berada di baris depan menentang rencana pembangunannya. Sikap itu ternyata dijaga hingga detik ini. Tak salah pula dia bekerja di sebuah NGO lingkungan. Dia pun tak sudi mengajukan beasiswa dari sebuah lembaga yang dinilainya perusak lingkungan. Itu tuh yang sedang menggugat Koran Tempo.
Kawan lainnya aneh lagi. Seorang aktivis NGO kawakan dari Jogjakarta. Dia sangat anti kapitalisme, sampai-sampai belum pernah sekali pun sudi masuk di gerai makanan cepat saji ala Amerika semacam MacTi, KaePCe dan lain sebagainya. Namun ke-istiqomah-annya berhasil saya goyahkan ketika berada di Bandara Sultan Hasanuddin. Saya rayu dia untuk makan siang di KaePCe. Alasan saya simpel, kalau berada di keramaian semacam bandara, jangan coba-coba daripada menyesal seumur hidup. Mending kita makan yang jelas-jelas ajah, bujuk saya. Kawan saya pun menurut sembari merengut. Ah sekali ini saja! Hahahaha…
Saya sangat beruntung mempunyai dua kawan tersebut. Mereka mencoba untuk tetap istiqomah dalam berjuang. Seandainya seluruh aktivis dan bekas aktivis seperti mereka. Seandainya semua blogger yang katanya “blogger itu jujur” juga tetap istiqomah dalam kejujuran.
Bagi anda para aktivis, sanggupkah anda untuk tetap istiqomah?
Kemarin saya lihat anda turun ke jalan menolak pembangunan mall di sebelah TMP Kota Malang, malamnya saya lihat anda sedang duduk berduaan di gerai Pijjat Hot mall tersebut!
Tetap Merdeka!

Kebiasaan saya ketika ngeblog…

Hanya ingin berbagi dan mungkin juga apabila anda berkenan dapat pula ikut berbagi tentang kebiasaan anda ketika ngeblog. Saya biasanya ngeblog dan juga browsing pada umumnya selalu menggunakan Mozilla Firefox. Terkadang saya juga menggunakan Opera dan Konqueror. Bagi saya IE sudah menjadi bagian kelam masa lalu.
Saya terbiasa menyiapkan tulisan secara offline menggunakan Microsoft Office Word 2007 atau OpenOffice.org 2.0. Tak jarang saya sudah menyiapkan beberapa tulisan sekaligus. Pun demikian ketika mempublikasikannya. Saya selalu mempublikasikan beberapa tulisan sekaligus pada satu kesempatan, namun tentu saja saya atur post stamp-nya. Sangat jarang saya mempublikasikan lebih dari satu tulisan dalam satu waktu. Menurut saya, tindakan ini adalah tindakan pemaksaan kepada pembaca.
Saya mencoba untuk “tidak terlalu produktif” menghasilkan tulisan, mengapa? Saya ngeblog untuk berbagi, bisa anda bayangkan apabila sebuah blog terdapat tulisan baru setiap jam-nya. Saya tidak ingin pengunjung blog saya hanya sekedar berkomentar tanpa membaca tulisan saya. Paling tidak membaca secara cepat jauh lebih mulia daripada hanya sekedar menebar taut di kolom komentar. Jadi saya batasi paling cepat dua hari sekali blog saya terupdate oleh tulisan baru. Toh saya tidak hanya menulis untuk blog saya kan? Saya harus pula membaca tulisan di blog lain.
Saya berusaha untuk membuat tulisan yang tidak terlalu panjang. Namun ini tidak berlaku untuk blog saya yang satunya. Kenapa? Ya karena blog ini dan blog itu ditakdirkan berbeda. Blog ini adalah blog harian yang gak jelas juntrungnya. Sedangkan blog itu adalah blog yang jelas juntrungnya. Biarlah blog ini menggambarkan sosok saya apa adanya. Hahahahaha….
Saya selalu memantau aktivitas blog ini dari RSS reader yang ada di HP. Jadi dimanapun dan kapanpun saya akan bisa membaca komentar-komentar anda.
Bagaimana ketika saya blogwalking?
Saya menggunakan google reader untuk mengumpulkan feed semua blog yang menurut saya layak dimasukkan ke dalam RSS reader. Dari sini saya baca beberapa tulisan dan pada tulisan yang menarik dan menggelitik langsung saja sikat dengan klik kanan, buka di tab baru. Begitu seterusnya…
Selain mengandalkan google reader, saya sering melakukan kunjungan secara tradisional pada beberapa blog yang hapal di luar kepala URL-nya. Yah, sekedar ingin melihat keberadaannya saja. Terkadang blog yang sedang mengalami masalah seringkali tidak bisa terpantau melalui google reader. Saya sering pula melakukan kunjungan balik pada tulisan yang sudah pernah saya baca dan komentari. Saya ingin melihat komentar dari pembaca lainnya atau juga tanggapan si empu blog atas komentar saya dan pembaca lainnya. Beberapa tulisan yang menurut saya bagus, sering saya kunjungi berkali-kali, hanya untuk memantau perkembangan komentar para pembaca. Read More

Tulisan gak mutu, tentang HP…

Setelah sempat berduka karena Sony Ericsson M600i saya hilang, kini saya telah mendapatkan gantinya. Ya, bagi seorang laki-laki tidak perlu menunggu masa iddah untuk mendapatkan pasangan baru. Setelah sempat beberapa hari menggunakan HP pinjaman dari seorang teman, kini saya telah mempunyai HP baru. Sudah hampir sebulan saya menggenggam HP baru ini, namun rasanya masih belum sepadan dengan M600i yang raib itu. Awalnya saya sempat bingung untuk mencari HP pengganti apa yang cocok dan pas serta nyaman di kantong pula. Kebingungan saya terjawab dengan adanya iklan di Jawa Pos tentang sebuah HP keluaran terbaru dari Sony Ericsson. K660i, fitur 3,5G HSDPA-nya membuat saya kesengsem. Walaupun hanya berbekal Java tanpa Symbian seperti M600i, tapi menurut saya sudah cukup untuk menggantikan si M600i itu. Tapi saya belum memutuskan untuk membelinya, tentu saja menunggu kondisi keuangan.

Esok harinya saya harus melakukan perjalanan ke Tuban. Kebetulan pula kasus eee pc sudah mendapatkan kepastian jawaban, sehingga saya menyempatkan pula untuk mampir ke THR Surabaya. Di tengah perjalanan, di dalam bis Restu yang panas, HP pinjaman teman yang saya bawa bergetar layaknya vibrator milik Miyabi. Ketika saya lihat, ternyata nomor telepon kantor. Wah ada apa ini? Ternyata suara lembut mbak administrasi fakultas terdengar. Tanpa intro, mbak tadi langsung bertanya nomor rekening saya dan bla bla bla bla…… Akhirnya komentar pada tulisan mengenai berita duka itu terbukti. Alhamduliilah…
Selepas dari THR, saya sempatkan mampir pula ke WTC. Langsung menuju gerai resmi Sony Ericsson dan K660i pun bisa saya bawa pulang walaupun belum saya bayar. Bayarnya bulan depan alias bulan ini saja. Hehehehe…
Freeware apa yang sudah saya pasang di K660i tersebut ?
1. Opera Mini 4.1
2. eBuddy Beta
3. mig33 Beta
4. Mini Notepad
5. Pocket Dictionary English-Indonesia
Apa yang telah saya lakukan dengan K660i tersebut?
1. Telepon, SMS, MMS, Chat
2. Pantau komentar melalu RSS Reader
3. Blogwalking menggunakan Opera Mini, kalau posting saya angkat tangan, soalnya keypadnya belum qwerty
4. Potret memotret untuk bahan posting.
5. Akses internet dimana saja dengan Telkomsel Flash, hanya apabila kondisi darurat.
6. JAV-AH… Read More

Syahwat bikin jalan macet…

Urusan syahwat memang seringkali menimbulkan masalah. Bukan hanya bagi si pelaku namun juga bagi orang lain yang tidak tahu rimbanya. Gara-gara syahwat pula, jalanan bisa menjadi macet total. Sungguh fenomena yang patut disayangkan.
Ini bukan syahwat biasa, bukan syahwat yang identik dengan pengobatan tradisional semacam Mak Erot. Ini adalah syahwat politik. Syahwat politik jauh lebih berbahaya daripada syahwat biologis. Yah, era reformasi membawa perubahan pada fenomena syahwat politik di negeri ini. Sekarang orang tanpa sungkan dan malu melampiaskan syahwat politiknya dimuka umum.
Hari Sabtu lalu, perjalanan saya dari Tuban menuju Malang sempat terganggu gara-gara syahwat politik seorang politikus lokal. Tanpa segan-segan politikus tersebut melakukan masturbasi politiknya di tepi jalan utama yang menghubungkan Surabaya dan Malang. Kemacetan pun tak terelakkan lagi. Begitu antusiasnya massa untuk melihat dari dekat masturbasi politik yang dilakukan oleh calon pemimpi(n)nya. Acara masturbasi politik tersebut dihadiri oleh ribuan massa. Hujan badai tak menghalangi aksi pelampiasan syahwat politik tersebut. Entah berapa ratus juta rupiah biaya pementasan aksi masturbasi politik ini.
Semua penumpang tampak gelisah menghadapi kemacetan selama tiga jam ini. Berbagai dugaan penyebab kemacetan mereka pikirkan. Sebuah kecelakaan lalu lintas tragis ada di hampir semua benak penumpang. Namun begitu tahu bahwa penyebab kemacetan adalah aksi masturbasi politik sang politikus, do’a serta sumpah serapah pun bersahutan.
Benar! Do’a dan sumpah serapah! Penumpang yang “alim” mengeluarkan do’a ancamannya. Semoga calon pemimpi(n) yang melakukan masturbasi politik di pinggir jalan ini bakal kalah, begitu kurang lebih do’anya. Sedang bagi penumpang yang “kurang alim”, sumpah serapah pun meluncur dengan jelas. Berbagai kata umpatan khas jawa Timur pun bersahutan dan ditujukan dengan penuh rasa hormat kepada sang pelaku masturbasi politik ini.
Bukan hanya masturbasi politik, syahwat politik juga menghalalkan adanya pedofili politik. Ini saya ketahui keesokan harinya, ketika membaca sebuah koran. Salah seorang kandidat pemimpi(n) melakukan pelanggaran berat dengan melibatkan anak-anak sebagai juru kampanye pemuas. Gila! Anak perempuan usia SD pun diembat!
Yah, syahwat politik memang berbahaya! Ketika syahwat politik telah memuncak, semua pun bisa dihalalkan.